• Robot yang gantikan resepsionis hotel. -JAPANTODAY.com-

Robot Semakin Mengambil Alih Pekerjaan Manusia

Robot Semakin Mengambil Alih Pekerjaan Manusia

Wed, 06/26/2019 - 04:24
Posted in:
0 comments

"Otomatisasi telah melanda kota-kota manufaktur. Di tempat-tempat itu, tingkat pernikahan menurun, kejahatan meningkat, tingkat kematian naik karena bunuh diri, alkohol dan narkoba," kata Dr Carl Frey.

Peneliti dari University of Oxford ini menyampaikan gambaran yang muram di pusat industri Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Ikat Pinggang Karat - kota-kota seperti Flint, Detroit dan Cleveland yang sebelumnya menjadi ujung tombak pertumbuhan berdasar sektor manufaktur.

Dr Frey mengatakan para buruh di kota-kota ini dikalahkan robot. Jadi apa yang akan terjadi jika mesin menggantikan kita?

Keuntungan

Jika para buruh kehilangan pekerjaan, mereka tidak akan membayar pajak dan di kebanyakan negara barat mereka akan dapat mengklaim tunjangan pengangguran. Ini sangat membebani negara bagian.

Di AS, 48% pemasukan federal berasal dari pajak pemasukan perseorangan, dan 35% berasal dari pajak asuransi sosial - hanya 9% yang berasal dari pajak perusahaan.

Untuk menutupi kekurangan pemasukan dari pajak penghasilan, banyak pihak mendukung pengenaan pajak pada robot.

Teknologi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalu untuk membantu, disamping juga sebagai pengacau.

Revolusi industri pertama membantu kita meninggalkan penggunaan tenaga binatang, revolusi industri kedua menciptakan peningkatan besar-besaran penggunaan listrik dan produksi massal. Zaman komputer memperlihatkan peningkatan efisiensi dan semakin cepatnya percampuran informasi.

Revolusi industri keempat - terkait dengan kecerdasan buatan (AI) dan robot - diperkirakan akan mendasari perubahan keseluruhan sistem produksi, manajemen dan kepemerintahan.

Jangkauan, kecepatan dan kedalaman berbagai perubahan ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Perlawanan

Pada tahun 2013, Dr Frey memperkirakan hampir 50% pekerjaan di AS menghadapi risiko dalam 30 tahun ke depan karena kemajuan AI dan robot.

Di antaranya adalah pekerjaan sektor industri, administrasi hukum dan pengemudi truk.

"Kita akan menyaksikan perlawanan terhadap otomatisasi, seperti yang kita lihat terkait dengan globalisasi. Pengemudi truk tidak dapat dipindahkan ke China, tetapi pekerjaan ini dapat digantikan mesin," kata Frey.

Pajak

Dua tahun lalu, miliarder, filantropis dan pendiri Microsoft, Bill Gates mengajukan ide pajak robot dalam sebuah wawancara dengan majalah Quartz.

"Sudah pasti terdapat pajak terkait dengan otomatisasi. Saat ini, buruh manusia yang berpemasukan US$50.000 atau Rp717 juta di pabrik akan dikenakan pajak penghasilan, pajak tunjangan sosial, semua hal itu. Jika robot melakukan hal yang sama, Anda akan berpikir kita akan memajaki robot pada tingkat yang sama," kata Gates.

Miliarder teknologi, Elon Musk juga mendukung pemajakan robot.

Dasarnya sederhana: robot dipajaki dan dananya digunakan untuk membiayai perawatan kesehatan dan pendidikan, atau bahkan penyediaan penghasilan dasar bagi semua orang.

Sasaran bisnis

"Anda tidak perlu secara fisik menemukan robot. Anda dapat menerapkan pajak otomatisasi. Bisnis yang hanya sedikit pegawainya harus diperhatikan. Pada saat yang sama pemerintah seharusnya mengurangi pajak buruh," kata Ryan Abbott, profesor hukum dan layanan kesehatan University of Surrey, Inggris.

Dia mengusulkan pajak terhadap robot mirip manusia - Abbott mengacu kepada semakin meluasnya penggunaan AI.

Pendukung pengenaan pajak mengatakan tambahan pemasukan ini dapat membantu pendanaan progran keterampilan dan mengurangi kemungkinan masalah kemasyarakatan karena pengangguran.

Kebijakan

Tahun 2017, Korea Selatan menjadi negara pertama yang memperkenalkan pemangkasan pemotongan pajak pada otomatisasi untuk membantu perlambatan penggunaan teknologi yang mempengaruhi lapangan pekerjaan.

Di Uni Eropa, usulan memperkenalkan pajak robot baru-baru ini dikalahkan di Parlemen Eropa.

Di AS, hal ini mendapatkan dukungan politik lewat pengenaan pajak pada otomatisasi untuk mendanai pemberian penghasilan dasar untuk semua.

"Memajaki robot bukanlah sebuah jalan keluar karena perusahaan besar akan memindahkan industrinya. Hanya perusahaan kecil dan menengah yang akan menderita," kata Dr Janet Bastiman dari perusahaan TI, Story Stream.

Ulrich Spiesshofer, mantan pimpinan perusahaan Swiss, ABB juga tidak mendukung pajak robot.

"Jika kita melihat ekonomi dengan tingkat pengangguran terendah di dunia dan menghubungkannya dengan robot: Jerman, Jepang, Korea Selatan memiliki tingkat robot tertinggi, 300 robot per 10.000 buruh, tetapi tingkat pengangguran mereka yang terendah."

Kehilangan pekerjaan

Tetapi hilangnya pekerjaan skala besar masih belum terjadi dan masa depan sebenarnya tidak sesuram itu.

Meskipun Carl Frey tetap mendukung perkiraaan tahun 2013-nya, proyek yang dibuat PwC tahun lalu menunjukkan di Inggris, kehilangan pekerjaan karena otomatisasi dapat digantikan dengan penciptaan pekerjaan baru.

Cabang olah raga kriket dan sepak bola sekarang menggunakan teknologi terkait dengan keputusan penting yang sebelumnya dilakukan pada wasit.

Penggunaan teknologi membantu perbaikan kualitas pengambilan keputusan. Tetapi ini tidak membuat para wasit menjadi mubazir, karena terciptanya tambahan pekerjaan teknisi.

Meskipun demikian hilangnya pekerjaan di pabrik adalah sebuah kasus yang berbeda.

Memang belum tercapai konsensus politik terkait pajak robot, tetapi para politisi semakin mempertimbangkannya sebagai cara untuk mengatasi perubahan karena kemajuan teknologi.

//BBC/01