Primary tabs

Mobilisasi Sentimen Ke Petahana Masif, Pemilih Harus Cerdas

BELAkANGAN ini ujaran kebencian dan serangan propaganda negatif sudah memobilisasi sentimen secara masif kepada petahana Walikota Bekasi Rahmat Effendi. Target mobilisasi sentimen negatif yang sudah disebarkan melalui medsos dan group aplikasi whats app tersebut agar elektabilitas petahana terjun bebas, perpecahan politik di tingkat masyarakat (gressroot), menjajaki isu yang mampu mengubah konstelasi politik. Hal tersebut dikatakan Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo.

Dijelaskannya, laboratorium perpolitikan pasca Pilkada DKI Jakarta yang diwarnai persaingan tajam dua kekuatan politik dominan yang mengakibatkan 'perpecahan politik di tingkat masyarakat sulit disembuhkan'. Kasus tersebut seharusnya menjadi pembelajaran para elit politik dan anasir politik bukan malah mengadopsinya di bawa ke Kota Bekasi. Beberapa isu yang diusung terkait privasi petahana, dugaan ijasah palsu, program Kartu Sehat dan kampanye dini.

Dia mengatakan polarisasi politik seperti Pilkada Kota Bekasi sebelumnya akan terus berlanjut hingga Pilkada 2018. Hal tersebut dipengaruhi oleh petahana yang akan mencalonkan lagi untuk periode yang kedua.

Bagaimanapun, menurut Didit, praktik perpolitikan dengan memanfaatkan propaganda negatif menunjukkan bahwa rakyat (pemilih) lebih matang ketimbang para politisi. "Selama bulan –bulan ini, masyarakat jauh lebih matang dan cerdas dalam mensikapi setiap isu yang digulirkan,” jelasnya.

Kematangan itu terlihat dari sikap wisdom (kearifan) yang ditunjukkan masyarakat dalam menyikapi sikap kontra yang ditunjukkan para penyebar isu negatif. Sebaliknya, "pemain politik punya pengetahuan, punya teori, pemikiran, tapi tidak punya wisdom. Rakyat punya (wisdom)."

Karena itulah, Didit meyakini jika rakyat dibujuk dan dimobilisasi dalam arus politik untuk kepentingan sentimen menuju Pilkada Kota Bekasi 2018 yang menimbulkan kegaduhan, rakyat Insya Allah tidak mau menurutinya. “ Yang membuat mereka betul-betul berdemokrasi, ialah membuat kritik dan marah dan menyalahkan. Lalu kemampuan mereka tidak begitu banyak, lantas mengerahkan massa. Nah, itu bukan kekuatan demokrasi," katanya menganalisis.

Menurutnya, kearifan lokal dan kesadaran masyarakat Kota Bekasi tentang hajat Pilkada yang damai mampu mengalahkan berbagai propaganda negatif yang terus digulirkan.

Dia menjelaskan, praktik berkembangnya informasi salah (hoax) yang menyebar di media sosial dan sebagian masyarakat termakan oleh informasi seperti itu. Menurutnya, penyebaran informasi di medsos harus ada pengendalian. Jika dibiarkan, lanjutnya, masyarakat yang minim pendidikan dan tidak memiliki kemampuan untuk memfilter, mereka akan mudah terprovokasi.

Ditegaskannya, para politisi, pelaku politik, kandidat yang akan ikut kontestasi Pilkada harus memberikan edukasi politik dan membereskan dirinya terlebih dahulu. "Merekalah yang paling dominan memobilisasi isu-isu sektarian, isu-isu SARA. Jadi mereka yang beres dulu," kata Didit.***

<>My/01