Primary tabs

Mau Jadi Bos yang Disukai Setiap Orang? Ini Dia Caranya…

Di banyak perusahaan pada 1980-an, bos yang baik adalah pemimpin yang otoriter, pemberi perintah, dan secara umum menjadi sumber utama bagi ide-ide baru.

Sekarang, banyak pekerja mendefinisikan pemimpin sebagai kolabolator, dengan kemampuan untuk mengembangkan ide orang lain, dan kehendak untuk menyadari bahwa para pekerja memiliki kehidupan di luar kantor.

Bagaimana Anda bisa menjadi bos yang baik versi tahun 2016? Ini ada empat langkah yang bisa membuat Anda menjadi manajer favorit semua orang. 1. Tahu kapan harus pulang Biasanya manajer diharapkan pulang paling terakhir untuk memberikan contoh bahwa bekerja dengan durasi panjang berarti lebih produktif.

Tetapi, riset membuktikan strategi ini keliru dan menunjukkan bahwa orang lebih produktif dan bahagia ketika mereka bekerja sekitar delapan jam per hari.

“Pesan yang Anda harus tekankan adalah hidup bukan hanya bekerja, Anda bisa bekerja dengan saya dan tetap punya kehidupan,” kata James Adonis, konsultan kepemimpinan dan relasi pekerja di Sidney, Australia.

Sebuah pekerjaan tidak boleh diukur dari berapa lama waktu Anda dan para bawahan Anda hadir di kantor, tetapi harus diukur dengan apakah hasilnya bagus, kata Steward Friedman, profesor dan kepala Proyek Integrasi Kerja/Hidup di Sekolah Wharton di Universitas Pennsylvania.

Pekerjaan bukanlah hidup Anda. Langkah pertama untuk mencapainya adalah bertanya kepada keluarga dan teman-teman apa yang mereka harapkan dari Anda. Lalu, bawa prioritas itu ke atasan, beserta rencana yang menunjukan bagaimana Anda bisa menyelesaikan pekerjaan Anda. Berikan satu bulan dan sebuah tawaran bahwa Anda bisa menyelesaikan pekerjaan dengan rencana Anda itu. “Orang selalu mengatakan bahwa mereka tidak bisa meninggalkan kantor karena bos mereka melarangnya,” kata Friedman.

“Namun tanggung jawab sebetulnya ada pada Anda, untuk mengetahui apa yang bisa Anda raih dalam kontrol Anda.” Hasilnya, selain bisa menghabiskan banyak waktu dengan keluarga dan teman, perilaku ini juga memberi standar kepada karyawan bahwa Anda menghargai kehidupan mereka juga. Dan ini bisa membuat Anda semakin dihormati. 2. Akhiri perilaku anti-ibu di kantor Banyak manajer masih memiliki bias yang cenderung berpihak pada laki-laki dibanding perempuan, terutama terhadap ibu yang harus merawat anak-anaknya, menurut riset yang dirilis pada 2015.

“Harapan dan stereotip kadang masuk dalam sebuah organisasi oleh pandangan-pandangan bias personal,” kata Robin Ely, profesor administrasi bisnis di Sekolah Bisnis Harvard.

“Perempuan, yang cenderung lebih perhatian kepada anak, dinilai bukanlah pekerja yang ideal.” Ubahlah itu di manajer level menengah karena mereka mereka mengontrol siapa yang dimasukan dalam jalur manajemen dan pegawai mana yang dipromosikan.

Membuang seksisme dengan keputusan ini memiliki banyak keuntungan: Ely mengatakan pegawai di kantor yang menganggap semua orang berharga (terlepas dari jenis kelamin atau ras mereka) akan lebih bekerja keras dan lebih loyal. Tempat kerja yang sudah lama mempromosikan laki-laki untuk naik jabatan memang paling sulit berubah, kata Karl Moore, profesor strategi dan organisasi di Desautels, sekolah bisnis di Universitas McGill di Montreal, Kanada. Perempuan terkadang merasa tidak akan sukses di kantor karena banyak pandangan bias yang menguntungkan laki-laki. Riset menunjukan perempuan lebih enggan beropini dalam lingkungan kerja macam ini dan sering kali mengira bahwa mereka tidak akan sukses.

Bos yang baik, bagaimanapun, akan bekerja untuk mendorong kontribusi pekerja perempuan dan memotivasi mereka untuk mengikuti program manajemen singkat, kata Moore. Pemimpin-pemimpin yang baik ini juga memberikan tunjangan bagi pegawai yang memiliki anak, kata Kathleen McQuiggan, yang mengelola dana investasi yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mendukung kesetaraan perempuan dan laki-laki di investor Pax World Management “Organisasi yang sangat bijak biasanya mencari cara bagaimana bisa sukses, dan di sisi lain bisa memberikan tunjangan untuk orang yang membutuhkan waktu lebih banyak dengan keluarga mereka,” kata McQuiggan.

“Manajer yang baik akan bertanya: bagaimana saya mengemas pekerjaan sehingga bisa lebih baik untuk para pegawai?” 3. Mengambil untung dari tindakan yang baik Mungkin salah satu ungkapan populer tentang manajemen di tahun 2015, yaitu 'dampak kolektif', bisa berhasil bagi pada manajer. Pertama, adalah berusaha membuat perusahaan Anda melakukan hal baik untuk masyarakat, yang tentu saja bisa mengangkat moral. Tetapi juga bisa menghasilkan keuntungan, yang diinginkan bos.

“Sebuah perusahaan diizinkan untuk mendapatkan laba selagi mereka mendorong perubahan sosial,” kata Mark Kramer, venture capitalist, yang pertama kali mencetuskan frasa itu pada sebuah artikel di Harvard Business Review pada 2011. “Itu adalah hal pertama yang harus mereka pahami untuk menguasai ide dampak kolektif.”

Rahasia untuk membuat gagasan sosial berhasil cukup sederhana: ajukan itu ke manajemen tingkat atas atau dewan direksi dengan rencana jelas tentang bagaimana investasi awal bisa berbuah keuntungan. Jika dampak kolektif adalah ide baru di perusahaan Anda, pertama Anda harus mengubah pemikiran orang tentang perubahan sosial. “Jika Anda adalah yang pertama yang punya ide tentang perubahan sosial, carilah tokoh di level atas yang bisa membahas gagasan itu," kata Terje M Tolefsen, wakil presiden senior di perusahaan kimia Norwegua, Yara International ASA. “Anda akan menemukan banyak orang yang berpandangan tradisional dan berkata, ‘sebentar, apa manfaatnya bagi kita?’” Yara International membentuk koalisi bersama pada 2010 lalu, yang terdiri dari pemerintah, organisasi non-profit, dan pihak swasta untuk melakukan investasi sebesar US$3 miliar (sekitar Rp45 triliun) pada pengembangan infrastruktur Tanzania. 4. Pemotongan anggaran yang tepat Program MBA dan buku-buku pelatihan manajemen tidak mengulas banyak tentang situasi sulit.

Tetapi kemungkinannya, sebagai manajer, Anda akan masuk ke dunia yang tak menyenangkan, yaitu memotong anggaran. Untungnya, manajer yang baik dapat belajar bahwa ada jalan untuk melakukannya dengan benar, kata Lynnette McIntire pengajar inovasi sosial di Babson College di Massachusetts dan mantan direktur di United Parcel Service.

Pertama, mengurangi staf adalah proritas terakhir Anda, kata McIntire. Mencari jalan untuk menyelamatkan pegawai Anda dan memotong anggaran di tempat yang lain, pada akhirnya dapat menumbuhkan sikap loyal di kemudian hari. Memecat karyawan adalah pilihan paling terakhir. Usahakan untuk tidak memangkas program yang tampak sebagai hadiah bagi pegawai kecil, seperti kopi gratis, kue ulang tahun, dan hal lain yang membuat karyawan senang. “Kesetiaan akan memudar jika bawahan tidak dilihat sebagai bagian dari tim dan perusahaan tidak mau berinvestasi pada mereka,” kata McIntire. “Semua orang menganggap hal seperti pesta ulang tahun sebagai pengeluaran yang pertama harus dipotong, padahal manajer harus mempertahankan fasilitas ekstra tersebut.” Sebaliknya, tinjau ulang kontrak pemasok dan rundingkan lagi kesepakatan dengan penyedia layanan, seperti jasa pengiriman. Pertimbangkan untuk menghentikan “proyek-proyek warisan” yang sudah dilakukan lama dan menguras anggaran Anda. Dan, di perusahaan besar berusahalah untuk kreatif, misalnya bahwa untuk suatu proyek perdana para pekerjanya bisa meminjam pegawai dari departemen lain. “Kapan pun Anda mengatur masalah finansial, selalu ada jalan untuk menjadi kreatif,” kata McIntire. “Ketika Anda diberi anggaran, berpikirlah tentang berbagai cara yang memungkinkan Anda berpikir ulang tentang bagaimana uang itu digunakan.” -BBC