Primary tabs

Lima Tahun Kepemimpinan PAS dipersepsikan Berhasil, Kepuasan Publik Tinggi  

KEPEMIMPINAN Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Wakil Walikota Ahmad Syaikhu (PAS) memasuki tahun ke-5 dan akan berakhir 10 Maret 2018. Namun karena memasuki tahapan Pilkada pada 1 Januari 2018 untuk pendaftaran pasangan calon dan penetapan paslon pada tanggal  12 Februari 2008.

Tiga hari setelah penetapan (15/2) petahana dinyatakan cuti hingga habis masa jabatan per 10 Maret 2018. “Per 16 Februari jabatan walikota akan diisi pelaksana tugas (Plt) yang ditunjuk Gubernur Jabar,” jelas Pemerhati Kebijakan dan Pelayanan Publik Bekasi, Didit Susilo.

Sejak dilantik 10 Maret 2013, pasangan PAS beberapa aspek arah pembangunan cukup berhasil dan mendapat apreasiasi beberapa pihak. Aspek yang paling menonjol pembangunan infrastruktur perkotaan yang berhasil merubah wajah kota secara dratis.

Terobosan yang paling fenomenal diluncurkanya Kartu Sehat berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) sebagai jaminan kesehatan untuk berobat gratis di rumah sakit dalam kota dan luar kota.

Program jaminan kesehatan ini lebih maju dari BPJS dan yang pertama se-Indonesia. “Secara umum selama lima tahun ini program pembangunan sudah dirasakan langsung masyarakat dan berhasil, tentu saja ada penilaian yang pro kontra dalam politik. Secara obyektif berdasarkan data dan fakta tingkat kepuasan publik, masyarakat terpuaskan,”kata Didit.

Dijelaskannya, dalam lima tahun pembangunan itu juga tidak mungkin semua warga masyarakat terpuaskan dan masih banyak kekurangan di sana sini karena berbagai kendala. Apalagi jika dilihat dari kacamata kuda dan persepsi politik.

Dari arah kebijakan pembangunan selama 5 tahun yaitu, tahun 1 kelembagaan dan penataan, tahun ke 2 pelayanan dasar, tahun ke 3 pembangunan infrastruktur dan utilitas, tahun ke 4 investasi dan perekonomian daerah serta tahun ke-5 inovasi dan kreativitas.

Arah kebijakan pembangunan itu secara umum terlampaui dan sudah dirasakan langsung publik.      

Sementara itu untuk menghadapai Pilkada 2018 berlangsung demokratis, damai dan bermartabat, semua pihak terutama para politisi harus mengusung rivalitas dalam kontestasi yang menyejukan mencerahkan.

Rivalitas tidak mencari celah untuk menjatuhkan lawan dengan mengusung isu-isu sensitif, negatif dan SARA. Politisi harus menunjukkan kedewasaan dan kesadaran dalam beretika politik, sehingga tidak menjadi sumber kegaduhan memantik suhu perpolitikan yang panas.

<> DIDIT SUSILO