• Bus TransPatriot di pangkalan Harapan Indah. -BP/01-

Kurang Sosialisasi & Takut Dekati Perumahan, TransPatriot Masih Sepi Penumpang

Kurang Sosialisasi & Takut Dekati Perumahan, TransPatriot Masih Sepi Penumpang

Thu, 10/31/2019 - 06:24
Posted in:
0 comments

KURANGNYA sosialisasi dan pendekatan ke perumahan-perumahan menjadi salah satu kendala angkutan kota TransPatriot koridor I Harapan Indah – Terminal Bekasi masih sepi penumpang. Manajemen terkesan kurang peka dengan kebutuhan transportasi warga.

Tak berlebihan bila setahun beroperasi, angkutan umum milik BUMD Trans Patriot itu belum memberi dampak yang nyata buat warga Kota Bekasi. Paling tidak bila melihat penumpang yang diangkut tiap harinya rata-rata hanya berkisar 550-600 penumpang. Bahkan, pada hari Sabtu dan Minggu, bus yang semuanya baru dan berpendingin itu tidak sampai separohnya terisi.

Bayangkan untuk jalur teramai dengan 9 armada hanya mengangkut rata-rata 600 penumpang per hari. Untuk biaya BBM plus tenaga kerja yang sudah berstandar UMR tentu masih tekor.

“Memang masih jauh dari harapan. Kita masih disubsidi Pemda,” kata petugas lapangan di terminal Harapan Indah ketika bincang dengan Bekasipos.com, baru-baru ini.

Dengan sembilan armada tapi rata-rata penumpang 600 per hari, artinya dalam sehari satu bus yang bisa putar-putar 5-6 kali menjalani rute trayek hanya dapat penumpang 60 orang. Kalau dibagi 6 kali jalan itu artinya sekali jalan hanya ada 10 tiket yang disobek diberikan kepada penumpang.

Coba dari sisi bisnis bisa Anda bayangkan, berapa biaya operasional yang harus ditomboki Pemkot Bekasi?

Ini untuk rute teramai Trans Patriot lho. Rute baru seperti Summarecon – Vida dan Summarecon Sumber Arta lebih tragis lagi. Dari pemantauan sementara, setiap kali melintas, khususnya di peak time yang naik hanya 1-2 penumpang.

Adakah yang salah dengan manajemen? Boleh jadi. Lihat saja pihak yang mungkin punya kepentingan dengan Trans Patriot dalam berkomentar di media sosial ketika ada pihak yang melihat bisnis angkutan ini yang lebih banyak pemborosan ketimbang membawa manfaat buat rakyat.

Ketika ada pihak yang mengkritik soal trayek karena dinilai tanpa melalui kajian yang komprehensif, mereka begitu antusias menangkisnya dengan menyebutnya sudah melakukan berbagai survei. Begitu pun ketika ada yang mengusulkan agar mendekati kawasan perumahan di mana banyak warga tiap hari beraktivitas, mereka mengatakan tidak mungkin karena jalanannya kecil.

Padahal, semua orang paham bus ini bukan bus yang begitu besar. Kalau di Jakarta tak jauh beda dengan Kopaja atau Metromini dengan penumpang di bawah 40 orang yang bisa memasuki ruas jalan kelas 3.

Sebenarnya dari ngobrol ringan di suatu siang itu bisa terjawab banyak persoalan yang ada di BUMD ini. Pertama, soal sosialisasi yang minim. Padahal, para pegawai Pemkot atau pihak terkait bisa jadi contoh dalam sosialisasi angkutan umum ini. Nyatanya, selama ini nihil.

Kedua, membenarkan pendapat orang kebanyakan, termasuk yang diusulkan masyarakat di media sosial – yakni dekati kawasan perumahan. Selama ini manajemen terkesan terlalu alergi dengan protes dari pengemudi Koasi dan ojek. Padahal, kalau manajemen Trans Patriot cerdas dan punya gaya komunikasi yang bagus, mereka bisa diajak bicara atau bahkan dijadikan sebagai pengumpan (feeder). Lebih dari itu, setelah era transportasi online berkembang, protes dari angkutan konvensional sudah tidak seperti dulu lagi.

“Sebenarnya banyak warga di sekitar perumahan ini bisa memanfaatkan bus ini kalau rutenya sampai di dekat Perumahan Taman Harapan Baru (THB). Lha, ini buat ke pangkalan bus Trans Patriot aja harus pakai angkot,” kata Marni, salah satu warga THB.

Pemikiran-pemikiran untuk membuat Trans Patriot itu eksis itu sudah ada di kepala para pelaksana di lapangan. Hanya saja konon di level manajemen seperti tak mau mendengar, apalagi menerapkannya.

“Wong persoalannya riil dan nggak rumit kok. Sekarang tinggal kemauannya untuk memajukan itu ada atau nggak,” begitu kira-kira suara dari seorang pelaksana yang sempat kami serap di lapangan saat bincang di depan terminal Harapan Indah.

Bagaimanapun bila BUMD ini terus merugi dan harus terus menyusu pada Pemkot Bekasi akan terus jadi beban tak berkesudahan seperti yang terjadi pada banyak BUMD-BUMD lain yang selalu merugi. Padahal, untuk Trans Patriot ini banyak armada yang digunakan merupakan bantuan dari Kementerian Perhubungan Pusat dan Pemprov Jabar. Artinya, BUMD tinggal mengelolanya dan tidak perlu mengeluarkan modal lebih besar untuk membeli bus.

//MY/01