• Bubur Ayam "Akang" Tambun. -BP/01-

Menikmati Bubur Ayam “Akang” di Tambun yang “Maknyuss”

Menikmati Bubur Ayam “Akang” di Tambun yang “Maknyuss”

Mon, 10/21/2019 - 03:55
Posted in:
0 comments

BUBUR ayam merupakan makanan pagi hari yang cukup populer. Di Bekasi ini ada banyak ragam bubur. Mulai dari bubur bekasi, bubur bandung, maupun bubur kuningan yang banyak dijajakan dengan gerobak dorongan maupun mangkal.

Kali ini sengaja kami menyiapkan bubur ayam kuningan “Akang” yang setiap pagi buka di sebuah gang di sisi barat Pasar Tambun. Meski sederhana, banyak warga pasar Tambun dan sekitarnya cukup mengenal bubur yang terletak di jalan sempit yang menghubungkan antara Jl Setiadarma (pasnya poll Angkot 23) dan Pasar Tambun ini.

Tidak ada nama yang terpampang di gerobak. Orang-orang pasar yang menjadi langganannya lebih senang menyebutnya dengan bubur “Akang”. Maklum, pemiliknya orang Kuningan, Jabar asli.

Akang biasanya bersama istrinya berjualan mulai sekitar pukul 05.30 sampai habis sekitar pukul 08.30 pagi. Ia memang sengaja menyediakan sarapan buat orang-orang Pasar Tambun atau warga lain yang mau beraktivitas. Maklum, biasanya sebelum pergi bekerja di pabrik atau ke Jakarta naik KRL di Stasiun Tambun, banyak pelanggan yang menyempatkan diri untuk sarapan bubur Akang.

Bubur Akang ini sebenarnya sama seperti bubur kuningan lainnya. Hanya saja yang membedakan, semua bumbu dan kelengkapan dimasak sendiri. Untuk bumbu kuning misalnya, Akang sengaja pilih bahan yang terbaik. Begitu pun beras yang digunakan untuk membuat bubur, selalu kualitas yang teratas.

“Kalau berasnya jelek, rasanya sangat terasa. Makanya, soal beras, saya nggak mau kompromi,” kata Akang.

Begitu pun sambal, bawang goreng, dan bumbu-bumbu atau kelengkapan lain seperti jeroan hati, ampla, usus yang menjadi kelengkapan bubur, semua dimasak sendiri. Mungkin kualitas yang selalu terjaga, ditambah dengan keahlian memasak yang sudah puluhan tahun itulah yang membuat buburnya terasa tetap maknyusss... dibanding banyak bubur-bubur kuningan lain di sekitarnya.

Setiap akhir pekan, pelanggan dari banyak tempat berdatangan. Sebagian tempatnya cukup jauh. Mereka datang ke sini hanya untuk sekadar menikmati bubur ayam kuningan khas Akang.

“Saya sudah lebih dari 10 tahun jadi pelanggannya. Mulai ketika itu semangkok masih Rp3.000 sampai sekarang Rp7.000,” ujar salah seorang PNS yang tinggal di Kota Legenda, atau sekitar 8 km dari Tambun.

Meski pelanggannya datang dari sejumlah kawasan perumahan yang jauh, namun sampai sekarang belum terpikir untuk membuka cabang. Akang tampak lebih suka dengan berjualan di tempat di mana ia mengawali berdagang bubur dan dikenal seperti sekarang ini.***