• -IST-
  • -IST-
  • -IST-
  • -IST-

Facebook Tuai Kritik Terkait Laporan Penyalahgunaan Data

Facebook Tuai Kritik Terkait Laporan Penyalahgunaan Data

Fri, 03/23/2018 - 15:37
Posted in:
0 comments

Facebook mendapat kritik kuat menyusul laporan bahwa informasi dari 50 juta penggunanya dikumpulkan oleh sebuah perusahaan riset data pemilih. Para legislator menuntut jawaban mengenai hal ini dan nilai saham Facebook turun sekitar 35 miliar dolar.

Harga saham Facebook merosot, sedangkan regulator dan legislator di Amerika dan Eropa menuntut jawaban. Sementara itu, muncul gerakan baru “Delete Facebook” atau “Hapus Facebook”.

Facebook, raksasa media sosial yang memiliki lebih dari 2 miliar pengguna, menghadapi kekacauan setelah muncul berbagai laporan bahwa data 50 juta penggunanya diberikan ke sebuah perusahaan yang membantu kampanye kepresidenan Donald Trump.

Sebagian pengamat mengatakan kontroversi yang muncul sekarang ini menyoroti betapa Facebook telah membiarkan para developer (web) di luar perusahaannya mendapat akses terlalu besar ke data para penggunanya.

"Mereka selalu memberi sambutan luar biasa istimewa bagi para developer, memberi mereka banyak informasi dan tidak memberi cukup banyak pengawasan. Mereka semua adalah pihak ke-tiga yang menjadi bagian dari komunitas Facebook, tetapi Facebook tidak mau mengawasi mereka. Akibatnya, sewaktu satu dari ribuan developer itu berbuat buruk, Facebook yang harus menanggung akibatnya,” kata Chris Hoofnagle, profesor hukum dan informasi di University of California (UC), Berkeley.

Facebook telah lama mempromosikan diri sebagai kekuatan yang membuat dunia lebih terhubung dan tempat yang lebih demokratis. Pada saat bersamaan, Facebook mengumpulkan data mengenai orang-orang yang luar biasa banyaknya yang dapat disalahgunakan untuk merongrong demokrasi.

Para pengecam menyatakan ini adalah momen bagi semua perusahaan media sosial untuk melakukan peninjauan secara jujur mengenai apa yang mereka lakukan.

"Penting sekali bagi perusahaan-perusahaan seperti Facebook untuk berkontemplasi dan memahami bahwa pilihan-pilihan yang mereka buat dalam desain dan strategi monetisasilah yang merumuskan harapan-harapan para pengguna mereka. Ini bukan strategi yang langgeng. Mereka menghadapi persoalan yang mereka buat sendiri,” kata Michelle de Mooy dari lembaga kajian Center for Democracy dan Technology.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengeluarkan pernyataan mengenai kontroversi itu hari Rabu (22/3), dan menyatakan tekadnya untuk mengaudit ribuan aplikasi yang menggunakan data Facebook serta memberikan perlindungan lebih baik lagi bagi informasi mengenai para penggunanya. Tetapi ini semua akan bergantung pada bagaimana Facebook mewujudkan tekad tersebut.

"Facebook telah menghadapi banyak kontroversi, banyak di antaranya berhasil disingkirkan dengan permintaan maaf dan penegasan kembali nilai-nilai intinya untuk menghubungkan dunia. Ini akan menjadi ancaman besar bagi Facebook jika orang tidak lagi percaya pada penuturan itu. Jika mereka melihat Brexit, Trump serta Putin dan mengatakan Facebook menghubungkan dunia dan dunia adalah tempat yang lebih buruk, saya pikir Facebook menghadapi masalah,” kata Chris Hoofnagle dari UC Berkeley.

Bagi Facebook dan 2 miliar penggunanya, tentu banyak yang dipertaruhkan.

Tarik Iklan di Facebook

Dampak dari penyalahgunaan data membuat Facebook rugi puluhan triliun rupiah. Sejumlah pelanggan iklan sebagian mulai menarik pemasangannya di laman jejaring sosial paling top dunia itu.

Commerzbank dan Mozilla telah membekukan iklannya di Facebook pasca skandal data yang membuat perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia itu kehilangan pangsa pasar sampai $45 miliar (Rp 826,5 triliun) pekan ini.

 "Kami menahan iklan kami di Facebook. Keamanan mereka dan perlindungan data sangat penting untuk kami," kata Uwe Hellmann, Kepala Strategi Brand Commerzbank kepada harian Handelsblatt pada hari Kamis (22/3/2018), yang dikutip Reuters.

Sebuah tulisan di situs blog Mozilla menyatakan pihaknya akan membekukan iklan sampai Facebook mengambil tindakan untuk memperkuat peraturan privasi dasarnya. "Mozilla menghentikan sementara iklan kami di Facebook," kata tulisan itu.

"Sementara kami yakin masih ada banyak yang harus dipelajari, kami menemukan bahwa aturan dasar [Facebook] saat ini membuka akses untuk data yang sangat banyak, khususnya yang berkaitan dengan aturan pada aplikasi pihak ketiga."

Dewan periklanan Inggris ISBA dijadwalkan bertemu Facebook pada hari Jumat (23/3/2018), mengeluarkan sebuah pernyataan tentang dugaan penggunaan data Facebook untuk target politik yang "sangat mengkhawatirkan".

Lebih dari 50 juta profil Facebook dipanen oleh sebuah aplikasi untuk data, yang kemudian meneruskan informasi itu ke konsultan politik Cambridge Analytica. Hal itu memperkuat kekhawatiran tentang kemungkinan data yang digunakan untuk mencoba mempengaruhi hasil pemilu kepresidenan AS di tahun 2016 dan pemilihan Brexit.

CEO Facebook Mark Zuckerberg meminta maaf pada hari Rabu (21/3/2018) karena pelanggaran kepercayaan dan berkata Facebook akan menginvestigasi semua aplikasi yang memiliki akses ke data dalam jumlah besar.

ISBA akan mendesak informasi lebih rinci dari Facebook tentang investigasi ini selama pertemuan hari Jumat, kata Direktur Jenderal Phil Smith dalam sebuah surel ke CNBC Internasional.

"Kami ingin memahami lingkup penyelidikan yang diumumkan Mark Zuckerberg kemarin. Kami ingin kepastian bagi anggota kami bahwa [penyelidikan] itu akan sampai ke masalah dasar dan implikasi ke publik dan pengiklan." 

<>VOA/CNBC/RTR/01