• Anim Immamuddin. -IST-

Anim Immamuddin: Wayang Sebagai Simbolisasi Politik Santun

Anim Immamuddin: Wayang Sebagai Simbolisasi Politik Santun

Mon, 01/07/2019 - 06:01
Posted in:
0 comments

WAYANG kulit dapat menjadi medium ampuh menyampaikan berbagai pesan. Bahkan memiliki peran penting dalam lakon kekuasaan, sebagai referensi politik Indonesia.

“Wayang itu politik. Diplomasi kebudayaan. Jagad kompleks untuk menyingkap sekian idealitas dan realitas hidup manusia. Pada kesenian wayang kita dapat mengambil pelajaran,” ujar Anim Immamuddin, SE, MM, di Kranggan Permai, Jatisampurna Bekasi, Senin (07/01/2019).

Bersama masyarakat Kranggan Jatisampurna, khususnya para penggiat budaya, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bekasi ini, akan menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, dengan menampilkan duet spektakuler Dalang Ki Wahyu Darma dan Ki Sri Kuncoro.

Mengangkat lakon "Sesaji Raja Suya" pentas wayang kulit ini akan digelar di Stadion Mini Kranggan Permai, Jatisampurna  Bekasi, Sabtu (26/01/2019) mendatang.

Saat ini masyarakat dihadapkan dengan bahaya segregasi sosial di mana politik identitas mencuat. Melalui pertunjukan wayang ini, Anim Immamuddin berharap, ceritanya menjadi cermin bagaimana membangun karakter budaya politik, yang dapat membawa masyarakat ke arah kehidupan bersama yang harmonis.

“Diperlukan kesadaran membangun relasi perdamaian sejati. Dalam gerakan budaya ini, sumbangsih pemikiran dari kita diharapkan dapat menginspirasi panggilan bersama untuk meretas damai di tengah keberagaman, secara rukun, bermoral, dan berbudaya,” ujar Caleg DPRD Kota Bekasi 2019 – 2024 Nomor Urut 1 Dapil IV Kecamatan Jatiasih dan Jatisampurna Kota Bekasi ini.

Pilihan Presiden (pilpres) yang hanya diikuti dua kandidat, lanjut Anim, terasa sangat berdampak pada hangatnya aura kompetisi politik. Terjadi perang opini, pencitraan, hingga kampanye hitam (black campaign), baik melalui media massa, maupun media sosial.

“Wayang sebagai referensi politik memberi kunci-kunci untuk membuka tabir dan mewartakan makna simbolisme dan estetisasi politik yang lebih beradab, santun serta berpihak kepada kepentingan masyarakat,” ujar Ketua Umum Koperasi Pasar (Koppas) Kranggan, yang pernah mendapat Penghargaan Satya Lencana Wira Karya Nasional dari Presiden Republik Indonesia Tahun 2012 ini.

Lakon "Sesaji Raja Suya" menceritakan dunia yang terguncang. Masyarakat dicekam ketakutan atas ulah Raja Jarasanda yang ingin menguasai dunia dengan faham radikalnya. Para Raja akan dikorbankan demi cita-citanya. Fakta ini mengusik nurani Para Pandawa sebagai ksatria untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan demi keadilan dan ketenteraman.

Puntadewa mengadakan upacara "Sesaji Raja Suya" demi menolong sesama. Ingin membebaskan para pemimpin yang ditawan Jarasanda. Namun usaha mulia ini tak semudah yang dibayangkan. Kegigihan perjuangan Pandawa dan Kresna mendapat rintangan dan hambatan luar biasa.

Namuna akhirnya angkara murka sirna. Kejahatan tumbang oleh keluhuran budi pekerti dan persatuan yang mantab dan kuat. Puntadewa selanjutnya dinobatkan sebagai "Satrio Piningit" penjaga perdamaian dan kemajuan.

#EDKARS