Sunday, May 20th

Last update08:15:03 PM GMT

You are here

By Plimun Web Design

Musik Jadi Inspirasi Bisnis Riki Membuka Usaha Kafe

E-mail Print PDF

Musik menjadi salah satu inspirasi baginya dalam menjalani roda kehidupan. Musik pulalah yang mendasari ide dibukanya sebuah kafe di Jl Dr Supomo 84 Solo. Crescendo Rest&Relax namanya. Kafe mungil ini dikembangkan oleh seorang Public Relations (PR) Palang Merah Indonesia (PMI) Solo, Riki Mirzam.


Tanggung jawab dan dedikasi terhadap almamater di bidang sosial itu, tidak akan memupuskan semangat kewirausahaan dari seorang pria lulusan D3 Desain Interior FSSR UNS Solo ini.

Semangat kewirausahaan ini, diwujudkan tidak hanya dengan merintis bisnis kafe. Tetapi, bisnis pengadaan asesoris drum band dan marching band, dengan membawa label Marching Minded (MM). “Lagi-lagi, musik telah menjadi inspirasi bisnis saya,” ujar Riki.

Sebagai pebisnis muda, gagal tentunya menjadi poin yang harus dirasakan untuk menuju sukses. “Tahun 2007 saya pernah buka bisnis rental film, tapi tahun 2009 tutup. Rupanya Tuhan punya rencana lain bagi saya,” kata pria kelahiran 18 Februari 1984. Khusus untuk bisnis kafe, lanjut Riki, saat ini masih belum maksimal.

“Karena baru tahun pertama. Kafe di Solo ini juga sudah sangat menjamur. Saya harus mencari formula yang lebih tepat lagi, agar pasarnya lebih optimal,” ujarnya. Jatuh bangun diakuinya telah mengawali bisnis kafe ini. Dan kini, Riki benar-benar tertantang untuk belajar lebih mendalam lagi, sehingga kafe yang dirintisnya bisa bertahan, lebih diterima pasar khususnya anak-anak muda.

Lantas, bagaimana dengan bisnis pengadaan aksesori musik drum band? Riki mengatakan, bisnis ini hanya diawali dengan produksi dan penjualan pernik-pernik seperti pin, kaos, handuk dan tempat ponsel. “Dalam pernik-pernik itu, musik juga menjadi inspirasi saya,” jelasnya.

Tetapi di kemudian hari, bisnis ini berkembang menjadi bisnis pengadaan aksesori drum band, dan cakupan pasarnya menjadi lebih luas. Ia telah menjual asesoris itu ke beberapa grup drum band dan marching band di Jember, Kalimantan hingga Sulawesi.

“Untuk pengadaan aksesori drum band, seperti topi dan bulu topi serta peralatan lain untuk para penari latar, saya bekerja sama dengan para pengrajin. Tetapi bahan dan desain biasanya dari saya.” Untuk membuka pasar, saat ini ia rintis usaha ini lewat jejaring online. “Kalau hanya dijual di Solo, pasarnya sangat sempit. Kami jual online dan kami tawarkan ke banyak relasi di Jakarta, Jember, Kalimantan dan Sulawesi,” imbuhnya. (solopos)